Di malam sebelum hari kemenangan,
Aku teringat tahun lalu, di tempat yang sama. Tempat semua keluarga berkumpul, begitu pun aku. Walaupun yang tersisa dariku hanya fisiknya saja.
Fikiranku, hatiku, melayang jauh ke Kota dimana terdapat salah satu dari 7 keajaiban dunia -ntah sekarang-, Candi Borobudur. Aku mengkhawatirkan seseorang. Seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidupku. Seseorang yang mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain.
Sebegitu khawatirnya, membuat setiap detikku terlewati di samping barang elektronik berbentuk kotak yang sekarang merupakan penghubung antara kita dengan orang yang jauh di sana. Meliriknya setiap waktu. Berharap segera mendapat kabar darinya, Adiknya, ataupun Ibunya.
Aku tidak begitu mempedulikan keluargaku. Bagiku, berkumpul di sini untuk sekedar urusan halal bihalal. Ada hal lain yang memenuhi fikiranku. Kabarnya. Apa yang terjadi dengannya? Sungguh disayangkan, tepat beberapa hari sebelum hari kemenangan, tipes dan demam berdarah menghampiri. Membuatnya terpaksa harus diopnam.
Terlebih lagi, virus-virus itu hinggap setelah dia beberapa hari bersamaku. Setelah dia mengantarku ke kota -dimana terdapat Malioboro- hanya untuk menemaniku ke terminal untuk kembali ke rumah.
Betapa merasa bersalahnya. Bertanggung jawab. Berkali kali aku memohon maaf kepada dirinya, Adiknya, dan terutama, Ibunya.
Kalo saja aku menolak tawarannya untuk mengantarkanku ke kota yang jauh dari rumahnya itu. Kalo saja aku tidak mengajaknya bermain ke tempat yang terdapat air terjun dan banyak tanaman liarnya itu. Kalo saja dan kalo saja. Mungkin dia tidak harus sakit seperti itu. Mungkin dia dapat menikmati hari kemenangan bersama keluarganya.
Aku merayu Mama, untuk dapat segera menengoknya di sana. Aku ingin melihat langsung kondisinya. Segera aku pesan tiket kereta api untuk H+2 setelah lebaran. Segala hal yang aku butuhkan aku persiapkan. Kuhubungi teman di Solo untuk meminjam motor jikalau memungkinkan.
Tidur dimana? Itu dapat kupikirkan nanti. Mungkin di Masjid dekat Rumah Sakit. Mungkin di ruang tunggu Rumah Sakit. Atau jika semua itu tidak memungkinkan, akan kucari Gas Station dan tidur di sana. Sudah kucoba mencari penginapan. Tapi sayang, karna masih suasana liburan, semua penginapan yang terjangkau full booked. Tersisa penginapan yang bertarif di atas kocekku.
Betapa bahagia bercampur sedih dan bersalah, ketika dapat bertemu dengannya, tetapi harus melihatnya terbaring di atas ranjang rumah sakit, karnaku. "Hei kamu, aku ingin kamu cepat sembuh. Apa yang kamu inginkan? Akan kuberikan semuanya selama itu masih memungkinkan dan dapat membuatmu lekas sehat", dalam hatiku. Dan dengan Rahmat Allah, alhamdulillah, 2 hari kemudian dia membaik dan boleh kembali ke rumah.
Mengingat kenangan itu, sungguh sangat menyenangkan. Betapa aku bisa melakukan semua itu, tanpa berfikir ini dan itu. Tanpa merasa keberatan. Melakukannya dengan kebahagiaan di dalam hati, karna aku dibutuhkan dan dapat berguna bagi orang yang kusayangi, kucintai.
Dan kembali ke masa ini. Walaupun perasaanku masih sama, tetapi dia sudah menjadi orang yang berbeda. Tidak lagi menjadi bagian dalam hidupku. Dan semua itu, karna aku yang memutuskan untuk mencoba berhijrah. Aku sadar, saat itu, cintaku kepadanya lebih besar daripada cintaku kepadaNya. Aku semakin jauh dariNya. Allah cemburu. Ketika diriku yang lebih lama dari diriku saat itu jauh lebih baik. Dan dengan kuasaNya, Allah menghukumku dengan rasa sakit yang tak pernah kuduga. Persoalan yang tak pernah kami kira.
Tapi aku percaya, semua itu, hanya untuk mengembalikan kami ke jalanNya. Untuk lebih mendekatkan kami kepadaNya.
Ya Rabb, maafkanlah dosa-dosa kami. Jagalah kami, agar selalu dapat Istiqomah berada di jalanMu. Munculkanlah kepada kami, cinta suci yang semakin mendekatkan kami kepadaMu. Izinkanlah semua rasa sakit yang kami rasakan ini, sebagai penggugur dosa-dosa kami. Kami selalu percaya dengan rencanamu, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui dan Maha Penyayang. Semua terjadi, untuk kebaikan kami di masa yang akan datang. Maka tolong jagalah kami, agar tidak kembali memilih jalan yang salah.
Aamiin Allahumma Aamiin